As of 18 August 2010, you must register to edit pages on Rodovid (except Rodovid Engine).

1. Kangjeng Susuhunan Prabu Mangkurat II / Mangkurat Admiral (Amral) (R. Mas Rahmat / R. Mas Kuning / P. Mas / G. P. H. Puger) d. 1703

From Rodovid EN

Person:26077
Jump to: navigation, search
Lineage Amangkurat I (Mataram)
Sex Male
Full name (at birth) 1. Kangjeng Susuhunan Prabu Mangkurat II / Mangkurat Admiral (Amral)
Other last names R. Mas Rahmat / R. Mas Kuning / P. Mas / G. P. H. Puger
Other given names Sayyid R.Mas Rahmat Adzmatkhan / KGPAd. Anom Mataram
Parents

Sunan Prabu Amangkurat Agung / Amangkurat I (Gusti Raden Mas Sayidin) [Mataram] b. 24 June 1619 d. 13 July 1677

Gusti Kanjeng Ratu Pembayun [P. Pekik]

Wiki-page [[1]]
[1][2]

Events

child birth: Sunan Prabu Amangkurat III / Raden Mas Sutikna (Mangkurat Mas) [Mataram] d. 1734

1677 title: SULTAN MATARAM KE 5 (1677-1703), Sunan Kartasura I

1703 death:

Notes

Judul pranalaSri Susuhunan Amangkurat II adalah pendiri sekaligus raja pertama Kasunanan Kartasura sebagai kelanjutan Kesultanan Mataram, yang memerintah tahun 1677-1703.

Ia merupakan raja Jawa pertama yang memakai pakaian dinas ala Eropa sehingga rakyat memanggilnya dengan sebutan Sunan Amral, yaitu [[ejaan Jawa untuk Admiral.]]

Silsilah Keluarga Nama asli Amangkurat II ialah Raden Mas Rahmat, putra Amangkurat I raja Mataram yang lahir dari Ratu Kulon putri [[Pangeran Pekik dari Surabaya.]]

Amangkurat II memiliki banyak istri namun hanya satu yang melahirkan putra (kelak menjadi Amangkurat III). Konon benar ataupun ngawur, menurut Babad Tanah Jawi ibu Amangkurat III mengguna-guna semua madunya sehingga mandul.

Perselisihan Masa Muda Mas Rahmat dibesarkan di Surabaya. Ia kemudian pindah ke istana Plered sebagai Adipati Anom. Namun hubungannya dengan adiknya yang bergelar Pangeran Singasari buruk. Terdengar pula kabar kalau jabatan Adipati Anom akan dipindahkan kepada Singasari.

Pada tahun 1661 Mas Rahmat memberontak didukung para tokoh yang tidak suka pada pemerintahan Amangkurat I. Pemberontakan kecil itu dapat dipadamkan. Para pendukung Mas Rahmat ditumpas semua. Namun, Amangkurat I sendiri gagal saat mencoba meracun Mas Rahmat tahun 1663. Hubungan ayah dan anak itu semakin tegang.

Pada tahun 1668 [[R.Mas Rahmat jatuh hati pada Rara Oyi]], gadis Surabaya yang hendak dijadikan selir ayahnya. Pangeran Pekik karena saking sayang kepada cucunya sehingga Beliau mempertemukan antara cucunya dan Rara Oyi. Akibatnya, kabar ini terdengar oleh Ayahanda, Amangkurat I murka dan mengeksekusi mati Pangeran Pekik sekeluarga hingga dimakamkan di komplek Banyusumurup. R.Mas Rahmat sendiri diampuni setelah dipaksa membunuh Rara Oyi dengan tangannya sendiri.

Persekutuan dengan R.Trunajaya R.Mas Rahmat diampuni ayahnya namun juga dipecat dari jabatan Adipati Anom. Jabatan putra mahkota Mataram kemudian diberikan kepada putra yang lain, yaitu Pangeran Puger.

Pada tahun 1670 R.Mas Rahmat meminta bantuan Panembahan Rama, seorang guru spiritual dari keluarga Kajoran. Panembahan Rama memperkenalkan bekas menantunya, bernama R.Trunajaya dari Madura sebagai alat pemberontakan R.Mas Rahmat.

Pada tahun 1674 datang kaum pelarian dari Makasar yang diwakili oleh Karaeng Galesong, putra Sultan Hasanudin, Raja Makasar yang ditolak Amangkurat I saat meminta sebidang tanah di Mataram. Diam-diam R.Mas Rahmat memberi mereka tanah di [[desa Demung]], dekat Besuki. Mereka kemudian bergabung dalam pemberontakan R.Trunajaya.

Kekuatan R.Trunajaya semakin besar dan sulit dikendalikan. R.Mas Rahmat merasa bimbang dan memilih berada di pihak ayahnya. Ia kembali menjadi putra mahkota, karena P.Puger sendiri berasal dari keluarga Kajoran (pendukung pemberontak).

Akhirnya, pada tanggal 2 Juli 1677 R.Trunajaya menyerbu istana Plered. Amangkurat I dan R.Mas Rahmat melarikan diri ke Barat. Namun P.Puger sendiri akhirnya pergi ke [[desa Kajenar]].

Persekutuan dengan VOC Amangkurat I meninggal dalam perjalanan pada 13 Juli 1677. Menurut Babad Tanah Jawi, minumannya telah diracun oleh R.Mas Rahmat. Meskipun demikian, R.Mas Rahmat tetap ditunjuk sebagai raja selanjutnya,

R.Mas Rahmat disambut baik oleh Martalaya bupati Tegal. Ia sendiri memilih pergi haji daripada menghadapi pemberontakan pimpinan R.Trunajaya. Tiba-tiba keinginannya tersebut batal, konon karena wahyu keprabon berpindah padanya. R.Mas Rahmat pun menjalankan wasiat ayahnya supaya membuat perjanjian dengan VOC dengan pengiriman Garnisun perang.

Pada bulan September 1677 diadakanlah perjanjian di Jepara. Pihak VOC diwakili Cornelis Speelman. Daerah-daerah pesisir utara Jawa mulai Kerawang sampai ujung timur digadaikan pada VOC sebagai jaminan pembayaran biaya perang Trunajaya.

R.Mas Rahmat pun diangkat sebagai Amangkurat II, seorang raja tanpa istana. Hasil perjanjian dengan VOC, ia berhasil mengakhiri pemberontakan Trunajaya tanggal 26 Desember 1679. Amangkurat II bahkan menghukum mati Trunajaya dengan tangannya sendiri pada 2 Januari 1680.

Membangun Istana Kartasura Pada bulan September 1680 Amangkurat II membangun istana baru di hutan Wanakerta karena istana Plered diduduki adiknya, yaitu Pangeran Puger. Istana baru tersebut bernama Kartasura.

P.Puger yang semula menetap di Kajenar pindah ke Plered setelah kota itu ditinggalkan R.Trunajaya. Ia menolak bergabung dengan Amangkurat II karena mendengar berita bahwa Amangkurat II bukan R.Mas Rahmat (kakaknya) melainkan anak Cornelis Speelman yang menyamar.

Perang antara Kakak dan Adik itu meletus pada bulan November 1680. Babad Tanah Jawi menyebutnya sebagai perang antara Mataram melawan Kartasura. Akhirnya setahun kemudian, yaitu 28 November 1681 P.Puger kalah dan menyerah.

Babad Tanah Jawi menyebut Mataram runtuh tahun 1677, sedangkan Kartasura adalah kerajaan baru sebagai penerusnya.

Sikap Amangkurat II terhadap VOC Amangkurat II dikisahkan sebagai raja berhati dua, satu sisi mlakukan perjanjian dengan VOC, satu sisi memikirkan cara agar terlepas dari VOC. P.Puger adiknya, jauh lebih berperan dalam pemerintahan. Ia naik takhta atas pinjaman hutang dari VOC sebagai biaya perang sebesar 2,5 juta gulden. Tokoh anti VOC bernama Patih Nerangkusuma berhasil menghasutnya agar lepas dari jeratan hutang tersebut.

Pada tahun 1683 terjadi pemberontakan Wanakusuma, seorang keturunan Kajoran. Pemberontakan yang berpusat di Gunung Kidul ini berhasil dipadamkan.

Pada tahun 1685 Amangkurat II menampung buronan VOC bernama Untung Suropati yang tinggal di rumah Patih Nerangkusuma. Untung Suropati diberinya tempat tinggal di [[desa Babirong]] untuk menyusun kekuatan.

Bulan Februari 1686 Kapten Francois Tack tiba di Kartasura untuk menangkap Untung Suropati. Amangkurat II pura-pura membantu VOC. Pertempuran terjadi. Pasukan Untung Suropati menumpas habis pasukan Kapten Tack. Sang kapten sendiri mati dibunuh oleh pasukan Untung Suropati

Amangkurat II kemudian merestui Untung Suropati dan Nerangkusuma untuk merebut Pasuruan. Anggajaya bupati Pasuruan yang semula diangkat Amangkurat II terpaksa menjadi korban. Ia melarikan diri ke Surabaya bergabung dengan adiknya yang bernama Anggawangsa alias Adipati Jangrana.

Akhir Kehidupan Amangkurat II Sikap Amangkurat II yang mendua akhirnya terbongkar. Pihak VOC menemukan surat-surat Amangkurat II kepada Cirebon, Johor, Palembang, dan bangsa Inggris yang isinya ajakan untuk memerangi Belanda. Amangkurat II juga mendukung pemberontakan Kapten Jonker tahun 1689.

Pihak VOC menekan Kartasura untuk segera melunasi biaya perang Trunajaya sebesar 2,5 juta gulden. Amangkurat II sendiri berusaha memperbaiki hubungan dengan pura-pura menyerang Untung Suropati di Pasuruan.

Amangkurat II akhirnya meninggal dunia tahun 1703. Sepeninggalnya, terjadi perebutan takhta Kartasura antara putranya, yaitu Amangkurat III melawan adiknya, yaitu P.Puger.

Sources

  1. http://www.royalark.net/Indonesia/solo3.htm -
  2. - * Babad Tanah Jawi, Mulai dari Nabi Adam Sampai Tahun 1647. (terj.). 2007. Yogyakarta: Narasi
    • H.J.de Graaf. 1989. Terbunuhnya Kapten Tack, Kemelut di Kartasura Abad XVII (terj.). Jakarta: Temp
    • M.C. Ricklefs. 1991. Sejarah Indonesia Modern (terj.). Yogyakarta: Gadjah Mada University Press
    • Moedjianto. 1987. Konsep Kekuasaan Jawa: Penerapannya oleh Raja-raja Mataram. Yogyakarta: Kanisius
    • Purwadi. 2007. Sejarah Raja-Raja Jawa. Yogyakarta: Media Ilmu

From grandparents to grandchildren

Grandparents
Pangeran Arya Martoputro
birth: 1605, Kotagede
death: 1688, Magelang
Ratu Pandansari / Ratu Mas Sekar
marriage: Pangeran Pekik ? (Pangeran Pakis)
death: 21 February 1659, Kotagede Yogyakarta, Dimakamkan di Pajimatan Imogiri
11. Gusti Ratu Wirokusumo
birth: Ing Djipang
Ratu Kulon / Kanjeng Ratu Batang
birth: Setelah Kanjeng Ratu Kulon (Cirebon) diusir dari Keraton, berubah nama menjadi Kanjeng Ratu Kulon
marriage: Sultan Agung / Prabu Pandita Hanyakrakusuma (Panembahan Hanyakrakusuma)
Grandparents
Parents
Sunan Prabu Amangkurat Agung / Amangkurat I (Gusti Raden Mas Sayidin)
birth: 24 June 1619
title: from 1646 - 13 July 1677, Kotagede, Yogyakarta, Sultan Mataram Ke-4 Bergelar AMANGKURAT-1
death: 13 July 1677, Tegal (city), Tegalwangi/Tegalarum
Parents
 
== 3 ==
2. Susuhunan Pakubuwono I / Pangeran Puger (Raden Mas Drajat)
marriage: Ratu Mas Blitar
marriage: Raden Ajeng Sendhi
marriage: Mas Ajeng Tejawati
marriage: Mas Ajeng Retnowati
marriage: Mas Ayu Tjondrowati
title: from 6 July 1704 - 1719, Kartasura, Sultan Mataram VI MATARAM KE 6, Sunan Kartasura III bergelar Susuhunan Paku Buwana Senapati Ingalaga Ngabdurahman Sayidin Panatagama Khalifatulah Tanah Jawa
death: 1719
9. Pangeran Hario Panular
death: about August 1722
== 3 ==
Children
Children
Grandchildren
Kanjeng Susuhunan Pakubuwono II / Raden Mas Prabasuyasa
birth: 8 December 1711, Surakarta
marriage: Raden Ayu Srie Berie Budjang
marriage: Putri Pangeran Purbaya
marriage: Ratu Mas Wirasmoro , Kertasura
title: from 15 August 1726 - 1742, Surakarta, Raja Susuhunan Surakarta Ke-I
marriage: Raden Ayu Tembelek
divorce: Raden Ayu Tembelek
marriage: Raden Ajeng Sumila / Raden Ayu Suryowikromo
divorce: Raden Ajeng Sumila / Raden Ayu Suryowikromo
title: from 1745 - 11 December 1749, Surakarta, Raja Susuhunan Surakarta Ke-I
death: 20 December 1749
Grandchildren

Personal tools
In other languages