As of 18 August 2010, you must register to edit pages on Rodovid (except Rodovid Engine).

Sri Sultan Hamengku Buwono I / Pangeran Haryo Mangkubumi (Raden Mas Sujono) b. 6 August 1717 d. 24 March 1792

From Rodovid EN

Person:354668
Jump to: navigation, search
Lineage Amangkurat IV
Sex Male
Full name (at birth) Sri Sultan Hamengku Buwono I / Pangeran Haryo Mangkubumi
Other last names Raden Mas Sujono
Parents

Prabu Amangkurat IV / Prabu Amangkurat Jawa (Raden Mas Suryo Putro) [Mataram] d. 20 April 1726

Mas Ayu Tejawati [?]

Wiki-page id.wikipedia.org/wiki/Hamengkubuwana_I
[1][2][3][4][5][6]

Events

6 August 1717 birth: Kartasura

child birth: Bendoro Raden Ayu Sosrodiningrat [Hb.1] [Hamengku Buwono] d. 28 August 1807

child birth: Bendoro Raden Ayu Ronodiningrat [Hb.1.14] [Hamengku Buwono I]

child birth: Gusti Kanjeng Ratu Bendoro ? (Gusti Raden Ayu Inten) [Hamengku Buwono I] d. 30 December 1801

child birth: Bendoro Raden Ayu Jayaningrat [Hamengku Buwono I]

child birth: Bendoro Raden Ayu Yudokusumo I [Hamengku Buwono I]

child birth: Bendoro Raden Ayu Mangkudirjo II [Hamengku Buwono I]

child birth: Bendoro Pangeran Haryo Danupoyo [Hamengku Buwono]

child birth: Bendoro Raden Ayu Yudokusumo II [Hamengku Buwono I]

child birth: Bendoro Raden Ayu Purwodipuro [Hamengku Buwono I]

child birth: Bendoro Raden Ajeng Sutiya [Hamengkubuwono]

child birth: Gusti Raden Mas Intu ? (Hamengkubuwono) [?] bur. August 1758

child birth: Bendoro Raden Ayu Hayati / Bojati Cakraatmaja [Hamengku Buwono]

child birth: Bendoro Raden Mas Suwardi [Hb.1.18] [Hamengku Buwono I]

child birth: Bendoro Raden Ayu Danunegoro [Hb.1.2] [Hamengku Buwono I]

child birth: Bendoro Raden Ayu Pringgoloyo [Hamengkubuwono]

marriage: Bendoro Mas Ayu Asmorowati [G.Hb.1.7] [Hamengku Buwono]

marriage: Gusti Kanjeng Ratu Kencono [G.Hb.1.1] [Hamengku Buwono] d. 1777

marriage: Bendoro Raden Ayu Tiarso [G.Hb.1.3] (Bendoro Raden Ayu Tilarso) [Hamengku Buwono]

marriage: Bendoro Mas Ayu Sawerdi [G.Hb.1.4] [Hamengku Buwono]

marriage: Bendoro Mas Ayu Mindoko [G.Hb.1.6] [?]

marriage: Bendoro Raden Ayu Jumanten [G.Hb.1.8] [?]

marriage: Bendoro Mas Ayu Wilopo [G.Hb.1.9] [?]

marriage: Bendoro Mas Ayu Ratnawati [G.Hb.1.10] [?]

marriage: Bendoro Mas Ayu Tandawati [G.Hb.1.12] [Blambangan]

marriage: Bendoro Mas Ayu Tisnawati [G.Hb.1.13] [?]

marriage: Bendoro Mas Ayu Turunsi [G.Hb.1.14] [Brawijaya V]

marriage: Bandara Mas Ayu Ratna Puryawati [G.Hb.1.15] [?]

marriage: Bendoro Radin Ayu Doyo Asmoro [G.Hb.1.16] [?]

marriage: Bendoro Mas Ayu Gandasari [G.Hb.1.17] [?]

marriage: Bendoro Raden Ayu Srenggono / [G.Hb.1.5] (Bendoro Raden Ayu Srenggorowati) [Hamengku Buwono]

marriage: Bendoro Mas Ayu Karnokowati [G.Hb.1.18] [?]

marriage: Bendoro Mas Ayu Setiowati [G.Hb.1.19] [?]

marriage: Bendoro Mas Ayu Padmosari [G.Hb.1.20] [?]

marriage: Bendoro Mas Ayu Sari [G.Hb.1.21] [?]

marriage: Bendoro Mas Ayu Pakuwati [G.Hb.1.22] [?]

marriage: Bendoro Mas Ayu Citrakusumo [G.Hb.1.23] [?] d. 24 March 1792

marriage:

marriage: 2. Mas Roro Juwati / Raden Ayu Beruk / KRK Kadipaten / KRK Ageng / KRKTegalraya (Kanjeng Ratu Mas) [Mataram] b. estimated 1734 d. 17 October 1803

marriage: 4. Bendoro Raden Ayu Handayahasmara / Mbak Mas Rara Ketul [Kramaleksana]

marriage: Raden Ayu Wardiningsih [Wardiningsih]

1711 child birth: Kanjeng Gusti Pangeran Haryo Kusumoyudo [Hb.1.7] (Bendoro Pangeran Haryo Adikusumo I) [Hamengku Buwono I] b. 1711 d. 1819

from 29 November 1730 - 13 February 1755 title: Kartasura, Pangeran Mangkubumi

1737 child birth: Bendoro Pangeran Hangabehi [Hb.1.2] [Hamengku Buwono] b. 1737 d. 1823

7 March 1750 child birth: Yogyakarta, 4. Kanjeng Sri Sultan Hamengku Buwono II [Hb. 1.4] [Hamengku Buwono I] b. 7 March 1750 d. 3 January 1828

February 1755 marriage: Yogyakarta, Bendoro Mas Ayu Cindoko [G.Hb.1.11] [?]

from 13 February 1755 - 24 March 1792 title: Yogyakarta

1756 child birth: Bendoro Raden Ayu Danukusumo ? (Bendoro Raden Ayu Purbayasa) [Hamengku Buwono I] b. 1756

1758 child birth: Bendoro Raden Ayu Ronggo Prawirodirjo [Hamengku Buwono I] b. 1758

1760 child birth: Bendoro Pangeran Haryo Demang Tanpo Nangkil [Hb.1.4] [Hamengku Buwono] b. 1760 d. 1820

1762 child birth: Bendoro Pangeran Haryo Diposonto [Hamengku Buwono] b. 1762 d. before 1820

21 March 1764 child birth: Yogyakarta, Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Ario Paku Alam I [Hb.1.6] (Kanjeng Pangeran Haryo Notokusumo) [Hamengku Buwono I] b. 21 March 1760 d. 31 December 1829

1765 child birth: Bendoro Pangeran Haryo Dipowiyono I / Bendoro Pangeran Haryo Silarang [Hamengku Buwono I] b. 1765 d. 1826

1765 child birth: Kanjeng Pangeran Adipati Dipowijoyo I [Hb.1.8] (Pangeran Muhamad Abubakar) [Hamengku Buwono I] b. 1765

1766 child birth: Bendoro Raden Ayu Notoyudo I [Hamengku Buwono I] b. 1766

1771 child birth: Bendoro Pangeran Haryo Panular [Hb.1.10] (Bendoro Raden Mas Hadiwijaya) [Hamengku Buwono I] b. 1771 d. 30 July 1826

1771 child birth: Bendoro Pangeran Haryo Dipowiyono II [Hb.1.17] (Bendoro Pangeran Haryo Panengah) [Hamengku Buwono I] b. 1771 d. 1815

1772 child birth: Bendoro Pangeran Haryo Mangkukusumo [Hamengku Buwono] b. 1772

1774 child birth: Bendoro Pangeran Haryo Hadikusumo II [Hamengku Buwono] b. 1774

1776 child birth: Bendoro Pangeran Haryo Diposono [Hb.1.12] [Hamengku Buwono I] b. 1776

1782 child birth: Bendoro Pangeran Haryo Balitar [Hb.1.15] [Hamengku Buwono I] b. 1782 d. 1827

24 March 1792 death: Imogiri, Yogyakarta

10 November 2006 title: Jakarta, Pahlawan Nasional RI

Notes

Official Link Adm: Hilal Achmar. Silsilah Sri Sultan Hamengku Buwono I

Babad Raja-Raja Jawa (Tumapel) Tunggul Ametung Maesa Wong Ateleng Maesa Cempaka / Ratu Angabhaya / Batara Narasinga Kertarajasa Jayawardana / Raden Wijaya Tri Buwana Tungga Dewi / Bhre Kahuripan II Bhre Pajang I Wikramawardana / Hyang Wisesa / R Cagaksali Kertawijaya / Bhre Tumapel III Rajasawardana / Brawijaya II Lembu Amisani / R. Putro / R. Purwawisesa Bhre Tunjung / Pandanalas / R. Siwoyo Kertabumi / Brawijaya V / R Alit / Angkawijaya R Bondhan Kejawan / Lembupeteng Tarub R Depok / Ki Ageng Getas Pandowo Bagus Sunggam / Ki Ageng Selo Silsilah Hamengku Buwono I Ki Ageng Anis (Ngenis) Ki Ageng Pemanahan / Mataram R Sutowijoyo / Panembahan Senopati Panembahan Hadi Prabu Hanyokrowati Sultan Agung Prabu Hanyokrokusumo Sunan Prabu Amangkurat Agung Kanjeng Susuhunan Pakubuwono I - Kartasura Sinuwun Prabu Mangkurat IV - Kartasura Pangeran Hadipati Mangkunagoro - Kartasura Kanjeng Susuhunan Paku Buwono II Pangeran Hadipati Hadiwijoyo Pangeran Hario Mangkubumi - Hamengku Buwono I Kanjeng Sultan Hamengku Buwono II K G P Adipati Ario Paku Alam I

Beliau memerintah di Yogyakarta, tahun 1755. Terlahir dengan nama Raden Mas Sujono yang merupakan adik Kanjeng Susuhunan Paku Buwono II di Surakarta. Pada tahun 1746 ia memberontak karena Paku Buwono II mengingkari janji memberikan daerah Sukawati (sekarang Sragen) atas kemenangan Mangkubumi melawan Raden Mas Said. Pemberontakan tersebut berakhir dengan tercapainya Perjanjian Gianti (13 Februari 1755) yang menyatakan bahwa separuh Mataram menjadi milik Mangkubumi. Dalam perjanjian itu pula Mangkubumi diakui sebagai Sultan Hamengku Buwono I yang bergelar Senopati Ing Ngalogo Sayidin Panotogomo Khalifatullah dengan karatonnya di Yogyakarta. (http://www.babadbali.com/babad/babadpage.php?id=550988)

Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat merupakan sedikit dari peninggalan sejarah kerajaan-kerajaan di Nusantara yang masih hidup hingga kini, dan masih mempunyai pengaruh luas di kalangan rakyatnya.

Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat didirikan oleh Pangeran Mangkubumi yang kemudian bergelar Sri Sultan Hamengkubuwono I pada tahun 1755. Pemerintah Hindia Belanda mengakui Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat sebagai kerajaan dengan hak mengatur rumah tangga sendiri. Semua itu dinyatakan di dalam kontrak politik. Kontrak politik terakhir Kasultanan tercantum dalam Staatsblad 1941, No. 47.

Berikut ini merupakan Sultan-sultan yang memerintah di Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat sejak awal didirikan hingga sekarang adalah :

1. Sultan Hamengku Buwono I Sultan Hamengku Buwono I (6 Agustus 1717 – 24 Maret 1792) terlahir dengan nama Raden Mas Sujana yang merupakan adik Susuhunan Mataram II Surakarta. Sultan Hamengkubuwana I dalam sejarah terkenal sebagai Pangeran Mangkubumi pada waktu sebelum naik tahta kerajaan Ngayogyakarta, beliau adalah putra Sunan Prabu dan saudara muda Susuhunan Pakubuwana II. Karena berselisih dengan Pakubuwana II, masalah suksesi, ia mulai menentang Pakubuwana II (1747) yang mendapat dukungan Vereenigde Oost Indische Compagnie atau lebih terkenal sebagai Kompeni Belanda (perang Perebutan Mahkota III di Mataram).

Dalam pertempurannya melawan kakaknya, Pangeran Mangkubumi dengan bantuan panglimanya Raden Mas Said, terbukti sebagai ahli siasat perang yang ulung, seperti ternyata dalam pertempuran-pertempuran di Grobogan, Demak dan pada puncak kemenangannya dalam pertempuran di tepi Sungai Bagawanta. Disana Panglima Belanda De Clerck bersama pasukannya dihancurkan (1751). peristiwa lain yang penting menyebabkan Pangeran Mangkubumi tidak suka berkompromi dengan Kompeni Belanda.

Pada tahun 1749 Susuhunan Pakubuwana II sebelum mangkat menyerahkan kerajaan Mataram kepada Kompeni Belanda; Putra Mahkota dinobatkan oleh Kompeni Belanda menjadi Susuhunan Pakubuwana III. Kemudian hari Raden Mas Said bercekcok dengan Pangeran Mangkubumi dan akhirnya diberi kekuasaan tanah dan mendapat gelar pangeran Mangkunegara.

Pangeran Mangkubumi tidak mengakui penyerahan Mataram kepada Kompeni Belanda. Setelah pihak Belanda beberapa kali gagal mengajak Pangeran Mangkubumi berunding menghentikan perang dikirimkan seorang Arab dari Batavia yang mengaku ulama yang datang dari Tanah Suci. Berkat pembujuk ini akhirnya diadakan perjanjian di Giyanti (sebelah timur kota Surakarta) antara Pangeran Mangkubumi dan Kompeni Belanda serta Susuhunan Pakubuwana III (1755).

Menurut Perjanjian Giyanti itu kerajaan Mataram dipecah menjadi dua, ialah kerajaan Surakarta yang tetap dipimpin oleh Susuhunan Pakubuwana III dan kerajaan Ngayogyakarta dibawah Pangeran Mangkubumi diakui sebagai Sultan Hamengkubuwana I yang bergelar Senopati Ing Ngalaga Sayidin Panatagama Khalifatullah dengan karatonnya di Yogyakarta. Atas kehendak Sultan Hamengkubuwana I kota Ngayogyakarta (Jogja menurut ucapan sekarang) dijadikan ibukota kerajaan. Kecuali mendirikan istana baru, Hamengkubuwana I yang berdarah seni mendirikan bangunan tempat bercengrama Taman Sari yang terletak di sebelah barat istananya.

Kisah pembagian kerajaan Mataram II ini dan peperangan antara pangeran-pangerannya merebut kekuasaan digubah oleh Yasadipura menjadi karya sastra yang disebut Babad Giyanti. Sultan Hamengkubuwana I dikenal oleh rakyatnya sebagai panglima, negarawan dan pemimpin rakyat yang cakap. Beliau meninggal pada tahun 1792 Masehi dalam usia tinggi dan dimakamkan Astana Kasuwargan di Imogiri. Putra Mahkota menggantikannya dengan gelar Sultan Hamengkubuwono II. Hamengkubuwana I dianugerahi gelar pahlawan nasional Indonesia pada peringatan Hari Pahlawan pada 10 November 2006. (http://www.beritaunik.net/unik-aneh/silsilah-lengkap-raja-raja-ngayogyakarta-hadiningrat.html)

Sri Sultan Hamengkubuwana I (lahir di Kartasura, 6 Agustus 1717 – meninggal di Yogyakarta, 24 Maret 1792 pada umur 74 tahun) merupakan pendiri sekaligus raja pertama Kesultanan Yogyakarta yang memerintah tahun 1755 - 1792

Asal-Usul

Nama aslinya adalah Raden Mas Sujana yang setelah dewasa bergelar Pangeran Mangkubumi. Ia merupakan putra Amangkurat IV raja Kasunanan Kartasura yang lahir dari selir bernama Mas Ayu Tejawati pada tanggal 6 Agustus 1717.

Pada tahun 1740 terjadi pemberontakan orang-orang Cina di Batavia yang menyebar sampai ke seluruh Jawa. Pada mulanya, Pakubuwana II (kakak Mangkubumi) mendukung pemberontakan tersebut. Namun, ketika menyaksikan pihak VOC unggul, Pakubuwana II pun berubah pikiran.

Pada tahun 1742 istana Kartasura diserbu kaum pemberontak . Pakubuwana II terpaksa membangun istana baru di Surakarta, sedangkan pemberontakan tersebut akhirnya dapat ditumpas oleh VOC dan Cakraningrat IV dari Madura.

Sisa-sisa pemberontak yang dipimpin oleh Raden Mas Said (keponakan Pakubuwana II dan Mangkubumi) berhasil merebut tanah Sukowati. Pakubuwana II mengumumkan sayembara berhadiah tanah seluas 3.000 cacah untuk siapa saja yang berhasil merebut kembali Sukowati. Mangkubumi dengan berhasil mengusir Mas Said pada tahun 1746, namun ia dihalang-halangi Patih Pringgalaya yang menghasut raja supaya membatalkan perjanjian sayembara.

Datang pula Baron van Imhoff gubernur jenderal VOC yang makin memperkeruh suasana. Ia mendesak Pakubuwana II supaya menyewakan daerah pesisir kepada VOC seharga 20.000 real untuk melunasi hutang keraton terhadap Belanda. Hal ini ditentang Mangkubumi. Akibatnya, terjadilah pertengkaran di mana Baron van Imhoff menghina Mangkubumi di depan umum.

Mangkubumi yang sakit hati meninggalkan Surakarta pada bulan Mei 1746 dan menggabungkan diri dengan Mas Said sebagai pemberontak.Sebagai ikatan gabungan Mangkubumi mengawinkan Mas Said dengan puterinya yaitu Rara Inten atau Gusti Ratu Bendoro.

Geneologis Hamengku Buwana I

Hamengku Buwana I secara geneologis adalah keturunan Brawijaya V baik dari ayahandanya Amangkurat IV maupun dari ibundanya Mas Ayu Tejawati. Dari garis ayahandanya silsilah keatas yang menyambung sampai Brawijaya V secara umum sudah pada diketahui namun dari pihak ibundanya masih sedikit yang mengungkapkannya. Dari Brawijaya V seorang dari puteranya bernama Jaka Dhalak yang kemudian menurunkan Wasisrowo atau Pangeran Panggung. Pangeran Panggung selanjutnya berputera Pangeran Alas yang memiliki anak bernama Tumenggung Perampilan. Tumenggung Perampilan mengabdikan diri di pajang pada Sultan Hadiwijaya dan beliau berputera Kyai Cibkakak di Kepundung jawa Tengah.Selanjutnya Ktai Cibkakak ini menurunkan putra bernama Kyai Resoyuda. dari Resoyuda ini menurunkan putra bernama Ngabehi Hondoroko yang selanjutnya punya anak putri bernama Mas Ayu Tejawati, ibunda Hamengku Buwana I. [sunting] Perang Tahta Jawa Ketiga

Perang antara Mangkubumi melawan Pakubuwana II yang didukung VOC disebut para sejarawan sebagai Perang Suksesi Jawa III. Pada tahun 1747 diperkirakan kekuatan Mangkubumi mencapai 13.000 orang prajurit.

Pertempuran demi pertempuran dimenangkan oleh Mangkubumi, misalnya pertempuran di Demak dan Grobogan. Pada akhir tahun 1749, Pakubuwana II sakit parah dan merasa kematiannya sudah dekat. Ia pun menyerahkan kedaulatan negara secara penuh kepada VOC sebagai pelindung Surakarta tanggal 11 Desember.

Sementara itu Mangkubumi telah mengangkat diri sebagai raja bergelar Pakubuwana III tanggal 12 Desember di markasnya, sedangkan VOC mengangkat putra Pakubuwana II sebagai Pakubuwana III tanggal 15. Dengan demikian terdapat dua orang Pakubuwana III. Yang satu disebut Susuhunan Surakarta, sedangkan Mangkubumi disebut Susuhunan Kebanaran, karena bermarkas di desa Kebanaran di daerah Mataram.

Perang kembali berlanjut. Pertempuran besar terjadi di tepi Sungai Bogowonto tahun 1751 di mana Mangkubumi menghancurkan pasukan VOC yang dipimpin Kapten de Clerck. Orang Jawa menyebutnya Kapten Klerek. [sunting] Berbagi Wilayah Kekuasaan

Pada tahun 1752 Mangkubumi dengan Raden Mas Said terjadi perselisihan.Perselisihan ini berfokus pada keunggulan supremasi Tunggal atas Mataram yang tidak terbagi.Dalam jajak pendapat dan pemungutan suara dukungan kepada Raden Mas Said oleh kalangan elite Jawa dan tokoh tokoh Mataram mencapai suara yang bulat mengalahkan dukungan dan pilihan kepada Mangkubumi.Dalam dukungan elite Jawa menemui fakta kalah dengan Raden Mas Said maka Mangkubumi menggunakan kekuatan bersenjata untuk mengalahkan Raden Mas Said tetapi Mangkubumi menemui kegagalan.Raden Mas Said kuat dalam dukungan-pilihan oleh elite Jawa dan juga kuat dalam kekuatan bersenjata.Mangkubumi bahkan menerima kekalahan yang sangat telak dari menantunya yaitu Raden Mas Said.Akibat kekalahan yang telak Mangkubumi kemudian menemui VOC menawarkan untuk bergabung dan bertiga dengan Paku Buwono III sepakat menghadapi Raden Mas Said.

Tawaran Mangkubumi untuk bergabung mengalahkan Raden Mas Said akhirnya diterima VOC tahun 1754. Pihak VOC diwakili Nicolaas Hartingh, yang menjabat gubernur wilayah pesisir utara Jawa. Sebagai perantara adalah Syaikh Ibrahim, seorang Turki. Perudingan-perundingan dengan Mangkubumi mencapai kesepakatan, Mangkubumi bertemu Hartingh secara langsung pada bulan September 1754.

Perundingan dengan Hartingh mencapai kesepakatan. Mangkubumi mendapatkan setengah wilayah kerajaan Pakubuwana III, sedangkan ia merelakan daerah pesisir disewa VOC seharga 20.000 real dengan kesepakatan 20.000 real dibagi dua;10.000 real untuk dirinya Mangkubumi dan 10.000 real untuk Pakubuwono III.

Akhirnya pada tanggal 13 Februari 1755 dilakukan penandatanganan naskah Perjanjian Giyanti yang mengakui Mangkubumi sebagai Sultan Hamengkubuwana I. Wilayah kerajaan yang dipimpin Pakubuwana III dibelah menjadi dua. Hamengkubuwana I mendapat setengah bagian.Perjanjian Giyanti ini juga merupakan perjanjian persekutuan baru antara pemberontak kelompok Mangkubumi bergabung dengan Pakubuwono III dan VOC menjadi persekutuan untuk melenyapkan pemberontak kelompok Raden Mas Said.

Bergabungnya Mangkubumi dengan VOC dan Paku Buwono III adalah permulaan menuju kesepakatan pembagian Mataram menjadi Surakarta dan Yogyakarta. Dari persekutuan ini dapat dipertanyakan; Mengapa Mangkubumi bersedia membagi Kerajaan Mataram sedangkan persellisihan dengan menantunya Raden Mas Said berpangkal pada supremasi kedaulatan Mataram yang tunggal dan tidak terbagi? Dari pihak VOC langsung dapat dibaca bahwa dengan pembagian Mataram menjadikan VOC keberadaannya di wilayah Mataram tetap dapat dipertahankan. VOC mendapat keuntungan dengan pembagian Mataram. [sunting] Mendirikan Yogyakarta

Sejak Perjanjian Giyanti wilayah kerajaan Mataram dibagi menjadi dua. Pakubuwana III tetap menjadi raja di Surakarta, Mangkubumi dengan gelar Sultan Hamengkubuwana I menjadi raja di Yogyakarta.Mangkubumi sekarang sudah memiliki kekuasaan dan menjadi Raja maka tinggal kerajaan tempat untuk memerintah belum dimilikinya.Untuk mendirikan Keraton/Istana Mangkubumi kepada VOC mengajukan uang persekot sewa pantai utara Jawa tetapi VOC saat itu belum memiliki yang diminta oleh Mangkubumi.

Pada bulan April 1755 Hamengkubuwana I memutuskan untuk membuka Hutan Pabringan sebagai ibu kota Kerajaan yang menjadi bagian kekuasaannya . Sebelumnya, di hutan tersebut pernah terdapat pesanggrahan bernama Ngayogya sebagai tempat peristirahatan saat mengantar jenazah dari Surakarta menuju Imogiri. Oleh karena itu, ibu kota baru dari Kerajaan yang menjadi bagiannya tersebut pun diberi nama Ngayogyakarta Hadiningrat, atau disingkat Yogyakarta.

Sejak tanggal 7 Oktober 1756 Hamengkubuwana I pindah dari Kebanaran menuju Yogyakarta. Seiring berjalannya waktu nama Yogyakarta sebagai ibu kota kerajaannya menjadi lebih populer. Kerajaan yang dipimpin oleh Hamengkubuwana I kemudian lebih terkenal dengan nama Kesultanan Yogyakarta. [sunting] Usaha Menaklukkan Surakarta

Hamengkubuwana I meskipun telah berjanji damai namun tetap saja berusaha ingin mengembalikan kerajaan warisan Sultan Agung menjadi utuh kembali. Surakarta memang dipimpin Pakubuwana III yang lemah namun mendapat perlindungan Belanda sehingga niat Hamengkubuwana I sulit diwujudkan, apalagi masih ada kekuatan ketiga yaitu Mangkunegoro I yang juga tidak senang dengan Kerajaan yang terpecah, sehingga cita cita menyatukan kembali Mataram yang utuh bukan monopoli seorang saja.

Pada tahun 1788 Pakubuwana IV naik takhta. Ia merupakan raja yang jauh lebih cakap daripada ayahnya. Paku Buwono IV sebagai penguasa memiliki kesamaan dengan Hamengku Buwono I.Paku Buwono IV juga ingin mengembalikan keutuhan Mataram.Dalam langkah politiknya Paku Buwono IV mengabaikan Yogyakarta dengan mengangkat saudaranya menjadi Pangeran Mangkubumi, hal yang menyebabkan ketegangan dengan Hamengku Buwono I.Setelah pengangkatan saudaranya menjadi Pangeran, Paku Buwono IV juga tidak mengakui hak waris tahta putra Mahkota di Yogyakarta. Pihak VOC resah menghadapi raja baru tersebut karena ancaman perang terbuka bisa menyebabkan keuangan VOC terkuras kembali.

Paku Buwono IV mengambil langkah konfrontatif dengan Yogyakarta dengan tidak mau mencabut nama "Mangkubumi" untuk saudaranya.Memang dalam Perjanjian Giyanti tidak diatur secara permanen soal suksesi Kasultanan Yogyakarta, sehingga sikap konfrontatif Paku Buwono IV ini dapat dimengerti bahwa penguasa Surakarta memahami tanggung Jawab Kerajaan.

Sikap konfrontatif Paku Buwono IV ini beriring dengan munculnya penasehat penasehat spiritual yang beraliran keagamaan dan ini yang meresahkan VOC dan dua penguasa lainnya, karena ancaman perang yang meluluh lantahkan Jawa bisa terulang kembali.

Pada tahun 1790 Hamengkubuwana I dan Mangkunegara I (alias Mas Said) kembali bekerja sama untuk pertama kalinya sejak zaman pemberontakan dulu. Mereka bersama VOC bergerak mengepung Pakubuwana IV di Surakarta karena Paku Buwono IV memiliki penasehat penasehat Spiritual yang membuat khawatir VOC. Pakubuwana IV akhirnya menyerah untuk membiarkan penasehat penasehat spiritualnya dibubarkan oleh VOC.Ini adalah kerja sama dalam kepentingan yang sama yaitu mencegah bersatunya penasehat spiritual dengan golongan Ningrat yang merupakan ancaman potensial pemberontakan kembali.

Hamengkubuwana I pernah berupaya agar putranya dikawinkan dengan putri Paku Buwono III raja Surakarta dengan tujuan untuk bersatunya kembali Mataram namun gagal. Pakubuwana IV yang merupakan waris dari Paku Buwono III lahir untuk menggantikan ayahnya. [sunting] Sebagai Pahlawan Nasional

Hamengkubuwana I meninggal dunia tanggal 24 Maret 1792. Kedudukannya sebagai raja Yogyakarta digantikan putranya yang bergelar Hamengkubuwana II.

Hamengkubuwana I adalah peletak dasar-dasar Kesultanan Yogyakarta. Ia dianggap sebagai raja terbesar dari keluarga Mataram sejak Sultan Agung. Yogyakarta memang negeri baru namun kebesarannya waktu itu telah berhasil mengungguli Surakarta. Angkatan perangnya bahkan lebih besar daripada jumlah tentara VOC di Jawa.

Hamengkubuwana I tidak hanya seorang raja bijaksana yang ahli dalam strategi berperang, namun juga seorang pecinta keindahan. Karya arsitektur pada jamannya yang monumental adalah Taman Sari Keraton Yogyakarta.Taman Sari di rancang oleh orang berkebangsaan Portugis yang terdampar di laut selatan dan menjadi ahli bangunan Kasultanan dengan nama Jawa Demang Tegis.

Meskipun permusuhannya dengan Belanda berakhir damai namun bukan berarti ia berhenti membenci bangsa asing tersebut. Hamengkubuwana I pernah mencoba memperlambat keinginan Belanda untuk mendirikan sebuah benteng di lingkungan keraton Yogyakarta. Ia juga berusaha keras menghalangi pihak VOC untuk ikut campur dalam urusan pemerintahannya. Pihak Belanda sendiri mengakui bahwa perang melawan pemberontakan Pangeran Mangkubumi adalah perang terberat yang pernah dihadapi VOC di Jawa (sejak 1619 - 1799).

Rasa benci Hamengkubuwana I terhadap penjajah asing ini kemudian diwariskan kepada Hamengkubuwana II, raja selanjutnya. Maka, tidaklah berlebihan jika pemerintah Republik Indonesia menetapkan Sultan Hamengkubuwana I sebagai pahlawan nasional pada tanggal 10 November 2006 beberapa bulan sesudah gempa melanda wilayah Yogyakarta.

Sources

  1. http://www.babadbali.com/babad/silsilah.php?id=550988 -
  2. http://www.beritaunik.net/unik-aneh/silsilah-lengkap-raja-raja-ngayogyakarta-hadiningrat.html -
  3. http://id.wikipedia.org/wiki/Hamengkubuwana_I#Pranala_luar -
  4. http://en.wikipedia.org/wiki/Hamengkubuwana -
  5. http://id-id.facebook.com/pages/Sri-Sultan-Hamengkubuwono-I/123930591010090?sk=wiki -
  6. http://komari-art.blogspot.com/2010/07/satrio-ngayogyakarta-hamengku-buwono-i.html -

From grandparents to grandchildren

Grandparents
Sunan Prabu Amangkurat II / Raden Mas Rahmat (Mangkurat Amral)
title: 1677, Kertasura, SULTAN MATARAM KE 5 (1677-1703), Sunan Kartasura I
death: 1703
9. Pangeran Hario Panular
death: about August 1722
2. Susuhunan Pakubuwono I / Pangeran Puger (Raden Mas Drajat)
marriage: Ratu Mas Blitar
marriage: Raden Ajeng Sendhi
marriage: Mas Ajeng Tejawati
marriage: Mas Ajeng Retnowati
marriage: Mas Ayu Tjondrowati
title: from 6 July 1704 - 1719, Kartasura, Sultan Mataram VI MATARAM KE 6, Sunan Kartasura III bergelar Susuhunan Paku Buwana Senapati Ingalaga Ngabdurahman Sayidin Panatagama Khalifatulah Tanah Jawa
death: 1719
3. Pangeran Arya Blitar IV.
title: from 1704 - 1709, Bupati of Madiun Ke 11
Ratu Mas Blitar
marriage: 2. Susuhunan Pakubuwono I / Pangeran Puger (Raden Mas Drajat)
title: from 1703 - 1704, Bupati Madiun Ke 10
death: 5 January 1732, Kertasura
Grandparents
Parents
Tumenggung Honggowongso / Joko Sangrib (Kentol Surawijaya)
occupation: Surakarta, Diangkat menjadi Mantri Gladak
marriage: Mas Ajeng Kuning
marriage: Mas Ajeng Dewi
marriage: Mas Ajeng Ragil
marriage: Dewi Retno Nawangwulan
title: 1749, Diangkat menjadi Bupati Nayaka dengan gelar Raden Tumenggung Aroeng Binang oleh Susuhunan Pakubuwono III
Parents
 
== 3 ==
Kanjeng Susuhunan Pakubuwono II / Raden Mas Prabasuyasa
birth: 8 December 1711, Surakarta
marriage: Raden Ayu Srie Berie Budjang
marriage: Putri Pangeran Purbaya
marriage: Ratu Mas Wirasmoro , Kertasura
title: from 15 August 1726 - 1742, Surakarta, Raja Susuhunan Surakarta Ke-I
marriage: Raden Ayu Tembelek
divorce: Raden Ayu Tembelek
marriage: Raden Ajeng Sumila / Raden Ayu Suryowikromo
divorce: Raden Ajeng Sumila / Raden Ayu Suryowikromo
title: from 1745 - 11 December 1749, Surakarta, Raja Susuhunan Surakarta Ke-I
death: 20 December 1749
12. Gusti Pangeran Hario Hadiwijoyo
marriage: Raden Ayu Sentul
death: 1753, Kaliabu, Salaman, Magelang
Sri Sultan Hamengku Buwono I / Pangeran Haryo Mangkubumi (Raden Mas Sujono)
birth: 6 August 1717, Kartasura
marriage: Bendoro Mas Ayu Asmorowati [G.Hb.1.7]
marriage: Gusti Kanjeng Ratu Kencono [G.Hb.1.1]
marriage: Bendoro Raden Ayu Tiarso [G.Hb.1.3] (Bendoro Raden Ayu Tilarso)
marriage: Bendoro Mas Ayu Sawerdi [G.Hb.1.4]
marriage: Bendoro Mas Ayu Mindoko [G.Hb.1.6]
marriage: Bendoro Raden Ayu Jumanten [G.Hb.1.8]
marriage: Bendoro Mas Ayu Wilopo [G.Hb.1.9]
marriage: Bendoro Mas Ayu Ratnawati [G.Hb.1.10]
marriage: Bendoro Mas Ayu Tandawati [G.Hb.1.12]
marriage: Bendoro Mas Ayu Tisnawati [G.Hb.1.13]
marriage: Bendoro Mas Ayu Turunsi [G.Hb.1.14]
marriage: Bandara Mas Ayu Ratna Puryawati [G.Hb.1.15]
marriage: Bendoro Radin Ayu Doyo Asmoro [G.Hb.1.16]
marriage: Bendoro Mas Ayu Gandasari [G.Hb.1.17]
marriage: Bendoro Raden Ayu Srenggono / [G.Hb.1.5] (Bendoro Raden Ayu Srenggorowati)
marriage: Bendoro Mas Ayu Karnokowati [G.Hb.1.18]
marriage: Bendoro Mas Ayu Setiowati [G.Hb.1.19]
marriage: Bendoro Mas Ayu Padmosari [G.Hb.1.20]
marriage: Bendoro Mas Ayu Sari [G.Hb.1.21]
marriage: Bendoro Mas Ayu Pakuwati [G.Hb.1.22]
marriage: Bendoro Mas Ayu Citrakusumo [G.Hb.1.23]
marriage:
marriage: 2. Mas Roro Juwati / Raden Ayu Beruk / KRK Kadipaten / KRK Ageng / KRKTegalraya (Kanjeng Ratu Mas)
marriage: 4. Bendoro Raden Ayu Handayahasmara / Mbak Mas Rara Ketul
marriage: Raden Ayu Wardiningsih
title: from 29 November 1730 - 13 February 1755, Kartasura, Pangeran Mangkubumi
marriage: Bendoro Mas Ayu Cindoko [G.Hb.1.11] , Yogyakarta
title: from 13 February 1755 - 24 March 1792, Yogyakarta
death: 24 March 1792, Imogiri, Yogyakarta
title: 10 November 2006, Jakarta, Pahlawan Nasional RI
== 3 ==
Children
Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Ario Paku Alam I [Hb.1.6] (Kanjeng Pangeran Haryo Notokusumo)
birth: 21 March 1760, Pangeran Notokusumo / Pangeran Adipati Paku Alam I (1813-1829) Pendiri wangsa Pakualaman yang lahir pada tahun 1760 ini adalah peletak dasar kebudayaan Jawa dalam Kadipaten Pakualaman. Kepada para putra sentana, PA I memberi pelajaran sains dan tata negara. Beberapa karya sastranya adalah: Kitab Kyai Sujarah Darma Sujayeng Resmi (syair), Serat Jati Pustaka (sastra suci), Serat Rama (etika), dan Serat Piwulang (etika). Ia wafat pada tanggal 19 Desember 1829.
birth: 21 March 1764, Yogyakarta
title: from 28 January 1812 - 31 December 1829, Gusti Pangeran Adipati Paku Alam I [1812-1829]
death: 31 December 1829, Yogyakarta
Kanjeng Pangeran Adipati Dipowijoyo I [Hb.1.8] (Pangeran Muhamad Abubakar)
birth: 1765
title: estimated 1810, Yogyakarta, Pangeran Muhamad Abubakar
Kanjeng Raden Tumenggung Notoyudo I
marriage: Bendoro Raden Ayu Notoyudo I
title: from 1785 - 1804, Wedono Jawi Bumija Tengen
death: 29 November 1804, Yogyakarta
Bendoro Pangeran Haryo Diposonto
birth: 1762
death: before 1820
Gusti Raden Mas Intu ? (Hamengkubuwono)
title: Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Anum Amangku Negara ingkang Sudibya Atmarinaja Sudarma Mahanalendra
burial: August 1758, Yogyakarta, Yogyakarta Sultanate, Imogiri cemetery
Bendoro Pangeran Haryo Mangkukusumo
birth: 1772
occupation: January 1828, Wakil Dalem
Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Aria Mangkunegara I / Pangeran Sambernyawa (Raden Mas Said)
birth: 7 April 1725, Kartasura
marriage: Raden Ayu Kusuma Patahati
marriage: Ratu Alit
marriage: Gusti Kanjeng Ratu Bendoro ? (Gusti Raden Ayu Inten)
title: 1757, Surakarta, Pangeran Adipati Mangkunegara Senopati Panoto Baris Lelono Adikareng Noto
divorce: Gusti Kanjeng Ratu Bendoro ? (Gusti Raden Ayu Inten)
death: 28 December 1795, Surakarta
title: 1983, Jakarta, Pahlawan Nasional Indonesia
Raden Adipati Tjokroatmodjo / R. Tumenggung Tjakra Werdana II
birth: BUPATI AFDELING CILACAP I (1858-1873)
Children
Grandchildren
Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Paku Alam II [Pa.1.1] / Pangeran Suryaningrat (Raden Tumenggung Notodiningrat)
birth: 25 June 1786, Yogyakarta
marriage:
marriage: Muktionowati [Ga.Pa.2.1]
marriage: Resminingdiah [Ga.Pa.2.3]
marriage: Widowati [Ga.Pa.2.4]
marriage: Sariningdiah [Ga.Pa.2.2] ? (Gondhowiryo)
marriage: Gusti Kanjeng Ratu Ayu [Hb.2.37] Bendoro Raden Ayu Krama [Gp.Pa.2.1]
title: 1814, Yogyakarta, Pangeran Suryaningrat
title: 31 December 1829, Yogyakarta, Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Suryaningrat
title: from 4 January 1830 - 23 July 1858, Yogyakarta, Kanjeng Gusti Pangeran Adipati (KGPA) Paku Alam II
death: 23 July 1858, Yogyakarta
Sri Sultan Hamengku Buwono III / Gusti Raden Mas Surojo
birth: 20 February 1769, Yogyakarta
marriage: Bendoro Raden Ayu Murtiningsih [Ga.Hb.3.21]
marriage: Bendoro Raden Ayu Hadiningdiah [Ga.Hb.3.22] / Bendoro Raden Ajeng Ratnadimurti
marriage: Bendoro Mas Ayu Mindarsih [Ga.Hb.3.9]
marriage: Gusti Kanjeng Ratu Kencono [Hb.1.?] / Gusti Kanjeng Ratu Hageng [Gp.Hb.3.1]
marriage: Bendoro Raden Ayu Mangkorowati [Ga.Hb.3.1]
marriage: Bendoro Raden Ayu Dewaningrum [Ga.Hb.3.10]
marriage: Bendoro Raden Ayu Lesmonowati [Ga.Hb.3.7]
marriage: Bendoro Raden Ayu Kusumodiningrum [Ga.Hb.3.6]
marriage: Bendoro Mas Ayu Mulyaningsih [Ga.Hb.3.18]
marriage: Bendoro Raden Ayu Puspitosari [Ga.Hb.3.17]
marriage: Bendoro Raden Ayu Mulyosari [Ga.Hb.3.16]
marriage: Bendoro Mas Ayu Puspitaningsih [Ga.Hb.3.15]
marriage: Bendoro Raden Ayu Puspitolangen [Ga.Hb.3.2]
marriage: Bendoro Raden Ayu Kalpikowati [Ga.Hb.3.3]
marriage: Bendoro Raden Ayu Surtikowati [Ga.Hb.3.4]
marriage: Bendoro Raden Ayu Panukmowati [Ga.Hb.3.5]
marriage: Bendoro Mas Ayu Medarsih [Ga.Hb.3.14]
marriage: Bendoro Raden Ayu Padmowati [Ga.Hb.3.13]
marriage: Bendoro Mas Ayu Wido [Ga.Hb.3.12]
marriage: Bendoro Raden Ayu Doyopurnomo [Ga.Hb.3.8]
marriage: Bendoro Raden Ayu Puspowati [Ga.Hb.3.11]
marriage: Gusti Kanjeng Ratu Hemas [Gp.Hb.3.1] ? (Prawirodirjo)
marriage: Gusti Kanjeng Ratu Wadhan [Gp.Hb.3.3]
marriage: Bendoro Mas Ayu Sasmitoningsih [Ga.Hb.3.19]
marriage: Bendoro Raden Ayu Renggoasmoro [Ga.Hb.3.20]
marriage: Bendoro Raden Ayu Hadiningsih [Ga.Hb.3.23]
title: 31 December 1808, Yogyakarta, Raja Putro Narendro Pangeran Adipati Anom Amangkunegoro (Pangeran Wali)
title: from 1810 - 28 December 1811, Yogyakarta
title: from 12 June 1812 - 3 November 1814, Yogyakarta, Ngarsodalem Sampeyandalem Ingkang Sinuhun Kanjeng Sultan Hamengku Buwono III
death: 3 November 1814, Yogyakarta, Imogiri
Bendoro Pangeran Haryo Dipowijoyo [Hb.2.44]
birth: 1794
marriage: 2. Bendoro Raden Ayu Nuryani / Bendoro Raden Ayu Abdu'l Arifin Hadiwijoyo
death: 30 July 1826, Nglengkong-Sleman, Termasuk dalam Daftar Panglima Perang Pangeran Diponegoro, (wafat pada 30 Juli 1826, dalam sebuah penyergapan Belanda didaerah Nglengkong-Sleman, Royal.Ark)
Raden Ronggo Prawiradirdja III
marriage: Gusti Kanjeng Ratu Maduretno Krama [Hb.2.21]
title: from 1799 - 17 December 1810, Bupati Madiun Ke 16 di : Maospati
death: 17 December 1810, Banyu Sumurup-Imogiri dipindahkan ke Giripurno-Gn Bancak-Magetan pada 1957
Bendoro Pangeran Haryo Diponegoro [Hb.3.1] Bendoro Raden Mas Ontowirya [Antawirya] (Pangeran Ngabdulkamit)
birth: 11 November 1785, Yogyakarta, Indonesia
marriage: 3. Raden Ayu Retnodewati
marriage: Raden Ayu Citrowati Sosrodirjo ? (Raden Ronggo)
marriage: 6. Raden Ayu Retnaningsih
marriage: 8. Raden Ayu Retnaningrum
marriage: 1. Raden Ayu Retno Madubrongto
title: 3 September 1805, Yogyakarta, Bendoron Raden Mas Ontowiryo (Carey,Peter, Takdir: Riwayat Pangeran Diponegoro, 2014, pp.17)
marriage: 2. Raden Ayu Retnakusuma / Raden Ayu Supadmi , Yogyakarta
marriage: Bendoro Raden Ayu Ontowiryo / Raden Ayu Maduretno , Keraton Yogyakarta
marriage: 7. Raden Ayu Retnakumala
title: 15 August 1825, Selarong, Yogyakarta, Sultan Eru Cakra, Sultan Ngah 'Abdu'l Hamid Eru Chakra Kabir ul-Mukminin Saiyid ud-din Panatagama Jawa Khalifat Rasu'llah
marriage: 7. Raden Ayu Retnakumala , Kasongan
death: 8 January 1855, Makassar, Indonesia
Bendoro Raden Ayu Ontowiryo / Raden Ayu Maduretno
birth: estimated 1798, Yogyakarta
marriage: Bendoro Pangeran Haryo Diponegoro [Hb.3.1] Bendoro Raden Mas Ontowirya [Antawirya] (Pangeran Ngabdulkamit) , Keraton Yogyakarta
title: 18 February 1825, Ratu Kedaton
death: 28 February 1827
Kanjeng Pangeran Adipati Danurejo II / Kanjeng Raden Tumenggung Mangkunegoro
birth: 1772
marriage: Bendoro Mas Ayu Pulungayun
occupation: from 9 September 1799 - 28 October 1811, Yogyakarta, Patih Kesultanan Yogyakarta
death: 28 October 1811
Kanjeng Pangeran Adipati Danurejo III / Pangeran Natadiningrat (Barep Hadiwanaryo / Raden Joyosentiko, Pangeran Joko Hadiyosodiningrat)
occupation: Mojokerto, Bupati Japan
marriage: Gusti Kanjeng Ratu Sasi [Hb.2.75]
occupation: from 2 December 1813 - 22 February 1847, Yogyakarta, Pepatih Dalem Kesultanan Yogyakarta bergelar Kanjeng Raden Adipati Danurejo III
death: 1849, Mojokerto
Grandchildren

Personal tools
Джерельна довідка за населеним пунктом
In other languages