As of 18 August 2010, you must register to edit pages on Rodovid (except Rodovid Engine).

Tribhuwana Wijayatunggadewi / Dyah Gitarja / Ratu Kenconowungu (Sri Tribhuwanottunggadewi Maharajasa Jayawisnuwardhani)

From Rodovid EN

Person:330040
Jump to: navigation, search
Lineage Majapahit Rajasa
Sex Female
Full name (at birth) Tribhuwana Wijayatunggadewi / Dyah Gitarja / Ratu Kenconowungu
Other last names Sri Tribhuwanottunggadewi Maharajasa Jayawisnuwardhani
Other given names Bhre Kahuripan di Jiwana
Parents

# Raden Wijaya / Prabu Kertarajasa Jayawardana (Jaka Sesuruh) [Sunda-Pajajaran] d. 1309

# Gayatri / Pusparasmi (Rajapatni) [Kertanegara] d. 1350

Wiki-page [[1]]
[1]

Events

child birth: # Dyah Nertaja / Dyah Nartaja (Rajasaduhiteswari Dyah Nartaja) [Majapahit Rajasa]

child birth: Dyah Nertaja / Bhre Pajang I [Majapahit Rajasa]

marriage: # Rahaden Cakradhara / Raden Cakradara (Kertawardhana Bhre Tumapel) [Brawijaya] d. 1386

1328 - 1351 title: Majapahit, Raja Majapahit III bergelar Sri Tribhuwanatunggadewi Maharajasa Jayawisnuwardhani

1334 child birth: # Hayam Wuruk / Maharaja Sri Rajasanagara (Bhre Kahuripan / Bhre Jiwana) [Majapahit Rajasa] b. 1334 d. 1389

Notes

Tribhuwana Wijayatunggadewi adalah penguasa ketiga Majapahit yang memerintah tahun 1328-1351. Dari prasasti Singasari (1351) diketahui gelar abhisekanya ialah Sri Tribhuwanotunggadewi Maharajasa Jayawisnuwardhani.

Silsilah Tribhuwana Nama asli Tribhuwana Wijayatunggadewi (atau disingkat Tribhuwana) adalah Dyah Gitarja. Ia merupakan putri dari Raden Wijaya dan Gayatri. Memiliki adik kandung bernama Dyah Wiyat dan kakak tiri bernama Jayanagara. Pada masa pemerintahan Jayanagara (1309-1328) ia diangkat sebagai penguasa bawahan di Jiwana bergelar Bhre Kahuripan.

Menurut Pararaton, Jayanagara merasa takut takhtanya terancam, sehingga ia melarang kedua adiknya menikah. Setelah Jayanagara meninggal tahun 1328, para ksatriya pun berdatangan melamar kedua putri. Akhirnya, setelah melalui suatu sayembara, diperoleh dua orang pria, yaitu Cakradhara sebagai suami Dyah Gitarja, dan Kudamerta sebagai suami Dyah Wiyat.

Cakradhara bergelar Kertawardhana Bhre Tumapel. Dari perkawinan itu lahir Dyah Hayam Wuruk dan Dyah Nertaja. Hayam Wuruk kemudian diangkat sebagai yuwaraja bergelar Bhre Kahuripan atau Bhre Jiwana, sedangkan Dyah Nertaja sebagai Bhre Pajang.

[sunting] Pemerintahan Tribhuwana Menurut Nagarakretagama, Tribhuwana naik takhta atas perintah ibunya (Gayatri) tahun 1329 menggantikan Jayanagara yang meninggal tahun 1328. Ketika Gayatri meninggal dunia tahun 1350, pemerintahan Tribhuwana pun berakhir pula.

Berita tersebut menimbulkan kesan bahwa Tribhuwana naik takhta mewakili Gayatri. Meskipun Gayatri hanyalah putri bungsu Kertanagara, tapi mungkin ia satu-satunya yang masih hidup di antara istri-istri Raden Wijaya sehingga ia dapat mewarisi takhta Jayanagara yang meninggal tanpa keturunan. Tetapi saat itu Gayatri telah menjadi pendeta Buddha, sehingga pemerintahannya pun diwakili putrinya, yaitu Tribhuwana Tunggadewi.

Menurut Nagarakretagama, Tribhuwana memerintah didampingi suaminya, Kertawardhana. Pada tahun 1331 ia menumpas pemberontakan daerah Sadeng dan Keta. Menurut Pararaton terjadi persaingan antara Gajah Mada dan Ra Kembar dalam memperebutkan posisi panglima penumpasan Sadeng. Maka, Tribhuwana pun berangkat sendiri sebagai panglima menyerang Sadeng, didampingi sepupunya, Adityawarman.

Peristiwa penting berikutnya dalam Pararaton adalah Sumpah Palapa yang diucapkan Gajah Mada saat dilantik sebagai rakryan patih Majapahit tahun 1334. Gajah Mada bersumpah tidak akan menikmati makanan enak (rempah-rempah) sebelum berhasil menaklukkan wilayah kepulauan Nusantara di bawah Majapahit.

Pemerintahan Tribhuwana terkenal sebagai masa perluasan wilayah Majapahit ke segala arah sebagai pelaksanaan Sumpah Palapa. Tahun 1343 Majapahit mengalahkan raja Kerajaan Pejeng (Bali), Dalem Bedahulu, dan kemudian seluruh Bali. Tahun 1347 Adityawarman yang masih keturunan Melayu dikirim untuk menaklukkan sisa-sisa Kerajaan Sriwijaya dan Kerajaan Malayu. Ia kemudian menjadi uparaja (raja bawahan) Majapahit di wilayah Sumatera. Perluasan Majapahit dilanjutkan pada masa pemerintahan Hayam Wuruk, di mana wilayahnya hingga mencapai Lamuri di ujung barat sampai Wanin di ujung timur.

Nagarakretagama menyebutkan akhir pemerintahan Tribhuwana adalah tahun 1350, bersamaan dengan meninggalnya Gayatri. Berita ini kurang tepat karena menurut prasasti Singasari, pada tahun 1351 Tribhuwana masih menjadi raja Majapahit.

[sunting] Akhir Hayat Tribhuwana Tribhuwana Wijayatunggadewi diperkirakan turun takhta tahun 1351 (sesudah mengeluarkan prasasti Singasari). Ia kemudian kembali menjadi Bhre Kahuripan yang tergabung dalam Saptaprabhu, yaitu semacam dewan pertimbangan agung yang beranggotakan keluarga raja. Adapun yang menjadi raja Majapahit selanjutnya adalah putranya, yaitu Hayam Wuruk.

Tidak diketahui dengan pasti kapan tahun kematian Tribhuwana. Pararaton hanya memberitakan Bhre Kahuripan tersebut meninggal dunia setelah pengangkatan Gajah Enggon sebagai patih tahun 1371.

Menurut Pararaton, Tribhuwanotunggadewi didharmakan dalam Candi Pantarapura yang terletak di desa Panggih. Sedangkan suaminya, yaitu Kertawardhana Bhre Tumapel meninggal tahun 1386, dan didharmakan di Candi Sarwa Jayapurwa, yang terletak di desa Japan

[edit] Sources

  1. Kepustakaan - * Slamet Muljana. 2005. Menuju Puncak Kemegahan (terbitan ulang 1965). Yogyakarta: LKIS
    • Slamet Muljana. 1979. Nagarakretagama dan Tafsir Sejarahnya. Jakarta: Bhratara

From grandparents to grandchildren

Grandparents
# Rakryan Jayadharma / Rakeyan Jayadharma
birth: Putra Mahkota, Meninggal Sebelum Naik Tahta
marriage: # Dyah Singamurti / Dyah Lembu Tal
Grandparents
Parents
Raden Wijaya / Prabu Kertarajasa Jayawardana (Jaka Sesuruh)
marriage:
title: 1293 - 1309, Majapahit, Nararya Sanggramawijaya Sri Maharaja Kertajasa Jayawardhana
death: 1309, Majapahit
Parents
 
== 3 ==
Jayanagara / Jayanegara (Raden Kalagemet)
birth: 1293
title: 1309 - 1328, Majapahit, Sri Maharaja Wiralandagopala Sri Sundarapandya Dewa Adhiswara
death: 1309
== 3 ==
Children
Hayam Wuruk / Maharaja Sri Rajasanagara (Bhre Kahuripan / Bhre Jiwana)
birth: 1334
marriage: # Selir / Garwo Ampeyan
title: 1351 - 1389, Majapahit, Raja Majapahit Ke 4 bergelar Maharaja Sri Rajasanagara
death: 1389, Majapahit
Children
Grandchildren
Wikramawardhana / Raden Gagaksali (Bhre Hyang Wisesa Aji Wikrama)
marriage: Bhre Daha II
title: 1389 - 1427, Majapahit, Raja Majapahit Ke-V bergelar Bhre Hyang Wisesa Aji Wikrama
Grandchildren

Personal tools
In other languages